Dalam urusan menamai sesuatu, saya tergolong tak becus. Saya pernah punya kura-kura kecil yang tampak gagah dan kokoh, gelagatnya cadas, lalu ia dinamai Rawky karena ia tampak begitu Rawk (anda cari dalam kamus manapun, definisi dari kata rawk tak akan pernah terang.)
Sering saya namai karya pribadi dengan tidak sepantasnya… Saya pernah membuat zine personal yang dinamai Damaged, dan lalu newsletter bernama Confused, kedua karya tulis amatiran itu lalu mati dengan cepat, berumur pendek dan lampau sesuai namanya. Lalu saya pernah pula coba peruntungan membuat zine lainnya, bosan memakai kata-kata dalam bahasa inggris dan terpikat dengan godaan sensasi sensual bahasa Prancis (Pak Bambang, seorang guru kursus bahasa Prancis Karbitan di kota saya sebenarnya sangat jauh dari kesan sensual), saya lalu menamai zine itu ILLUMINER, awalnya membanggakan karena makna dari kata itu adalah kurang lebih “sebuah pencerahan”. Namun pada prosesnya zine PDF itu ikut pula surut di alurnya dan padam begitu saja.
Sebenarnya semuanya lebih berhubungan dengan kontinuitas, keberlanjutan, saya bukan jenis orang yang paling konsisten, masyarakat mengenali sifat ini sebagai sindrom panas-panas tahi ayam, semangat diawal dan lalu melemah ditengah jalan. Masalahnya rasa bosan itu kadang menyerang dengan luar biasa frontal, disusul sergapan rasa malas yang akhirnya berujung pada sebuah fase pointless yang parah. Everything I do is so pointless. Nothing is Something, Something is Nothing.
Dalam urusan menamai sesuatu, saya memang tergolong tak becus. Makanya ketika WordPress sekonyong-konyong menanyakan apa nama Blog ini ketika saya baru mendaftar, Ide bagus naik nilainya menjadi sangat mahal. Apa saya harus cari referensi lagi? Mencari sebuah nama super keren yang tak terpikirkan orang lain dan oh-sangat-cutting-edge sekali? Dan sebelum ingin sekali lagi mencontek nama – nama penuh pretensi, basa-basi, dan tak bermakna apa-apa.. saya dengar keponakan saya yang kelas 1 SD berseru.. “cuaca buruk.. cuaca buruk..”
Dafarrel, adalah keponakan saya yang baru berusia sekitar 6 tahun, mungkin karena waktu kecil sering diboyong ke bandara dan berpergian dengan pesawat terbang, Darrel jadi sedikit terobsesi dengan apapun yang berciri aviasi dan penerbangan. Cita-citanya begitu luhur: manjadi seorang pilot, Hobinya menerbangkan pesawat mainan kecil dengan tangannya mengililingi rumah adalah sumber inspirasi, paling tidak untuk penamaan blog ini, sampai pada titik dimana ia menyerukan “cuaca buruk.. cuaca buruk..” dengan statis tapi getir, selayaknya pilot yang panik. Dan saya pikir Cuaca Buruk memang sebuah kata yang secara estetis simpel tapi tetap punya makna menarik.
Yang jauh lebih penting dari nama blog ini adalah materinya, jujur saya bingung apa asiknya mengisi weblog (saya secara sadar menghindari kata-kata seperti “Blogger Lokal” dan “Ngeblog” karena tak mau terjebak diantara kolotnya para praktisi Blog negeri ini). Jelas tulisan saya akan terlihat lebih bernilai jika media yang memuatnya bisa dicetak seperti zine atau majalah, nah itulah masalahnya, tidak ada satupun media yang berminat memuat apa yang saya tulis. Padahal saya tak juga menulis sesuatu yang berat seperti “Manifesto merah kiri baru di Soviet lama” sumpah! saya tidak minat membuat sesuatu semembosankan itu, saya kenal orang-orang yang terhibur dengan wacana super-boring-omong-kosong semacam itu, and thank god it ain’t me.
Tags: Blogger (service), PROLOG, RANT, Wordpress, Zine
SocialVibe